Jumat, 19 April 2019

I B L I S_ Diantara Ribuan Sahabatku, Hanya Dialah yang Paling Aku Rindukan


Kali ini Aku tidak memintanya untuk menahan diri,
Sebab akupun telah jemu melayaninya, Tubuhnya yang bau, lidahnya yang penuh bualan dan suaranya yang nyaring, itulah IBLIS KEPARAT.

Sejujurnya ingin sekali aku membunuhnya, tapi aku tidak bisa dan aku harus terbiasa dengan ini bahkan lebih dari itu, telah ku sayangi dia dan telah ku jaga perasaanya dengan Penuh Kesabaran, sebab aku tidak sanggup melihatnya kalah. Namun aku salah dan aku sangat menyesal sebab KESABARANKU itu telah membuatnya jemu dan dia memutuskan untuk pergi.,
Meski aku tidak melerainya, namun jujur harus aku katakan bahwa aku mulai takut kehilanganya, "jika itu merupakan keputusanmu, maka harus kurelakan kepergianmu, jika saja sehari lagi kita bisa bersama, pasti kita bisa jadi teman sejati" kataku sambil memegang tangannya yang gemetar, "baiklah kawanku, selamat jalan saja, jika suatu saat kau kedinginan. Maka jangan sungkan untuk mampir di gubuk ini lagi" lanjutku,, sesaat ia tunduk, kulihat matanya lembab namun dia berusaha menyembunyikannya, dan dia berkata "selamt tinggal sahabatku, aku kira ini akhir yang baik bagi kita"., dia pun pergi melewati jalan setapak, menyusuri lorong-lorong kota santri.
Sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi, ya barangkali IBLIS itu telah binasa, smoga saja belum, sebab masih aku inginkan pertemuan ke dua dengannya.. IBLIS keparat, iblis laknat.
SEKARANG, setelah sekian lama aku tidak melihatnya, jujur aku sangat merindukannya, merindukan bualannya, merindukan omong kosongnya, aku rindu dengan bau tubuhnya, aku rindu segalanya, aku sepi tanpanya.
Beberapa bulan lalu aku dapat kabar jika dia ada di suatu rumah di lereng gunung cikuray, aku kejar kesana namun penghuni rumah mengatakan dia sudah lama pergi.
Ohhhh IBLIS, kawanku, sahabatku. Dimanakah engkau.? Kemarilah, kunjungi aku di gubuk yang biasa kita bertemu, aku janji kali ini aku akan jadi sahabat yang buruk buatmu, agarengkau betah dan mau berlama lama di sisiku


Oleh : Iwan Sunarya (Pegiat Tarekat Moderen)

Merindiiing_ Inilah Rintihan Lara Sang Rembulan

Cintaku..!!!
Tengah malam telah datang dan aku masih juga menangis tersedu-sedu dan tenggelam dalam kedukaan, Tiada yang dapat melipurku, tiada yang bisa menenangkanku akibat luka perpisahan yang telah menguliti batinku. Masih terngiang-ngiang di kepalaku saat kau ucapkan kata terakhirmu "Kekasihku, Dlm tangismu Tegarkanlah perasaanmu, sebab orang yang yakin pada air mata, suatu saat nanti pasti ia akan kembali", sekarang aku tidak tau lagi harus bicara apa, tapi jiwaku tidak bisa lagi kutahan, lukaku tidak bisa lagi aku sembunyikan, batinku menjerit, meraung seprti singa sakit, jiwaku meronta seprti sang pemberontak yang menemukan negerinya bersimbah darah. Hanya sebuah suara yang dapat menghiburku "jagnlah bersedih hati, sebab hanya cinta yang didera ketirnya perpisahan yang akan merasakan manisnya perjumpaan, dan perpisahan merupakan sebaik2nya guru sepanjang perjalanan umat manusia", Itu suaramu cintaku. Tapi hingga malam ini, sisi kemanusiaan dalam diriku terus menggodaku, cintaku, aku tidak bisa menolaknya, sebab Kekuatan mana yang dapat mengalahkan gairah cinta, tapi mengapa kau tidak bisa bersabar untuk menahan diri.? Atau iblis manakah yang telah memprdayamu untuk menjauhiku.?

Tidak..!!
tidaaaak cintaku.. Sekarang katakan padaku, kewajiban macam apakah yang telah memisahkan dua insan dan membuat para wanita jadi janda.? Bakti macam apa yang telah merebut seorang istri dari suaminya,? atau ketaatan apakah yang rela mengobarkan api peperangan? 

Dengar Cintaku.!
Pabila kewajiban itu dapat merobohkan kedamaian, dan ketaatan dapat memporak-porandakan ikatan persaudaraan. Maka marilah kita. Sama sama berteriak "PERSETAN DENGAN  KETAATAN."
Ahhhhh.... Akan tetapi tdk cintaku..! Pergilah dan setialah pada bisikan hatimu dan berdirilah dalam baktimu dan Jaganlah cinta membutakan hatimu. Yakinlah  jika kehidupan ini tidak bisa mengantarkanmu lagi padaku. Maka pastilah kita akan dipertemukan di kehidupan yang lain.


Teruntuk.
Cintaku..! Rinrin Nurfajar
Di beranda rumahnya

Rabu, 17 April 2019

Iwan Sunarya_ ReVolusi Ruhani Satu2nya Jalan Kembali

Gerhana rembulan hampitr total, malam gelap gulita, sinar matahari yang memancar kerembulan tidak sampai kerembulan karena terhalangi oleh bumiMatahari adalah

lambang tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai untuk bumi yang semestinya di pancarkan oleh bulanRembulan adalah lambang para kekasih Allah Swt. Yakni para Rasul, para nabi, para Ulama, Para ajengan dan para cerdik cendikia ataupun mungkin juga para pujanggaKarena bumi menutupi cahaya matahari, maka malampun menjadi gelap gulita
Saudaraku...! Kita semua tahu bila di dalam kegelapan segala sesuatu yang buruk terjadi, orang tidak bisa mengenal wajah saudaranya sendiri dengan jelas, manusia mengira utara adalah selatan dan selatan adalah barat.

Di alam kegelapan, manusia dengan tidak sengaja  sengaja saling hujat satu sama lain bahkan dengan sengaja mereka saling jegal satu sama lain. Di alam kegelapan pula manusia tidak punya pedoman yang jelas, mau kemana melangkah dan bagaimana melangkah, akhirnya mereka semua kehilangan orientasi kehidupan, hendak kemana mereka semua pergi...?

Illir...! kita memang sudah ngelilir, kita sudah bangkit, bahkan kaki kita semua telah berlari kesana kemari. Namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita masih jalan di tempat. Kita masih merupakan anak dari orde yang kita kutuk habis-habisan dimulut. Namun ajarannya kita biarkan hidup subur dalam aliran darah dan daging kita Kita mencaci para perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik, lalu apa bedanya kita dengan mereka.? Kita menghujat para penguasa  lalim dengan cara berjuang keras untuk menggantikannya, yakni menjadi penguasa yang lalim pula.
Bangkit...! Kita memang sudah bangkit, kita sudah merdeka, 51 tahun para penjajah telah meninggalkan negeri tercinta ini, kita sudah berdiri tegak, bahkan jiwa dan raga kita telah terbang tinggi meninggalkan segala sesuatu, namun sekali lagi, akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum.Kita masih merupakan anak dari jaman jahilliyah yang ajarannya kita kutuk habis-habisan dimulut, namun kebiasaannya dan juga budayanya kita biarkan hidup subur dalam aliran darah dan daging kita. Kita membenci para pembuat dosa dengan cara syetan yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri, dengan kita membenci, mengutuk dan menjauhinya, itu berarti kita telah menghalangi usahanya untuk memperbaiki diri. Kita mencerca orang yang melakukan kesalahan dengan cara toghut yakni kita jegal semua hak-haknya, di buntuti, dicurigai, difitnah dan disebarkan segala tentangnnya. Mengapakah kita semua tidak berusaha membuka hati untuk memeluk semua dengan kasih kita, tidaklah kita semua dengar jeritan hati terdalam mereka yang sedang kedinginan dan kelaparan akan siraman kasih sayang...? 
Yang kita bangkitkan bukannya pembaruan kebersamaan malainkan asyiknya perpecahan, yang kita bangunkan bukannya cinta dan ketulusan, malainkan prasangkan dan fitnah, yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka dan kepedihan, melainnkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara.
Sungguh, setelah kita ditindas kita siap siaga untuk ganti menindas ulang, setelah kita diperbudak, maka kita siap siaga untuk ganti memperbudak dan setelah kita dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang kita kutuk itu...?
Mengapakah kita semua tidak juga tersadar dari semua ini, padahal semuanya telah nampak di depan mmata. Bukankah libido kekuasaan, aktifitas para politikus yang haus dengan kedudukan yang karenanya mereka menghalalkan segala cara, itu adalah sebuah kepalsuan, mereka berpura-pura hendak menegakan keeadilan dengan menggulingkan kawannya sendiri, padahal jauh dari itu semua justru dia memimpikan kedudukan itu. 
Saudaraku...! Sungguh, yang kita kembangsuburkan bukannya cinta dan ketulusan melainkan prasangka dan fitnah, kita tidak memperluas cakrawala jiwa kita dengan ilmu dan taburan senyum, akan tetapi kita malah mempersempitnya dengan jurang-jurang kehinaan dan duri-duri klepalsuan.
Tibalah saatnya bagi kita untuk memilih, apakah kita akan menjadi “bumi” yang selalu menghalangi jalannya cahaya matahari sehingga bumi itu sendiri menjadi gelap gulita, yakni seseorang yang selalu mengadakan makar dan pembangkangan juga yang selalu menghalang-halangi lajunya perputaran kebenaran. Atau...
Kita semua akan memilih menjadi “rembulan” yang selalu memancarkan sinar matahari kepermukaan bumi, yakni dialah para rasul, para nabi, para ulama, para ajengan, dan para cerdik cendikia ataupun mungkin juga para pujangga dan siapa saja yang dapa atau bisa memancarkan cahaya Allah Swt. Di bumi dan diberdayakannyaSetelah kita memilih, lalu kita geser diri kita ketempat yang lebih tepat (rumah-rumah Allah Swt.) agar kita dapatkan sinar matahari atau cahaya-cahaya Allah Swt. Untuk kemudian kita pancarkan cahaya matahari itu kepada bumi (eMha Ainun Nadjib)
Saudaraku...! Realitas kehancuran moral bangsa ini bermuara pada keringnya sfiritual, keringnya sfiritual bermuara pada kebablasan ilmu pengerahuan, jauh dari tuntunan Illahi, kering kerontang, hampa dan hilangnya rasa syahdu dalam hidupEra moderen telah mengubah mekanisme kehidupan masyarakat menuju prinsip dan logika berlebih-lebihan dalam segala aspek, orientasi kebendaan menjadi menu sehari-hari, akibatnya kesejahteraan yang hendak dicapat justru sering membuat mereka kehilangan tujuan kehidupan,(hendak kemana kita semua pergi?) 
Bagi kita yang telah dipilih oleh Allah Swt. Tentu kita semua akan merasakan kejenuhan dan kegerahan yang amat sangan. 
Dari itulah kami mencoba mengetuk qalbu-qalbu, bersegeralah raih ampunan Allah Swt. Kebumikan wajah-wajamu, lepaskan semua ikatan yang selama ini mengikat dan raihlah kemenangan yang hakiki, angkat kembali jaman keemasan yang sudah hampir lenyap, ingat tidak banyak waktu yang kita punya...
Umat sedang menanti kita semua, yakni menantu sentuhan kasih dan sayang kita, menanti siraman kelembaban, pesan kehidupan dan senyum tulus sarat dengan kemesraan.
Bulatkan tekan, langkahkan kaki dan ayunkan tangan, hizrahlah ke rumah-rumah kami, bergabunglah dan mari kita sama-sama tatap diri kita semua sebelum menatap orang lain dan ditatap lain orang. Mari kita bina segala sesuatu yang ada pada diri kita semua sebelum kita membina umat, agar kita dapatkan sinar atau cahaya-cahaya Allah Swt. Dan kita pantulkan cahaya itu dalam kehidupan nyata. Kita satuukan semua yang tercecer diantara kita, kita buat kesepahaman dalam keanekaragaman, kita bangun persatuan  dalam kesatuan agar kita dapatkan sebuah kekuatan yang maha dahsyat dan kita dapat memberikannya kepada siapa saja yang membutuhkan kekuatan itu.
Inilah penciptaan diri-diri yang sejati yang akan menjadi panutan umat sepanjang masa, tidak hanya panutan selama dua, tiga atau empat hari saja Ini adalah penempaan diri-diri yang nantinya dengan ijin Allah Swt., akan menjadi pemuka perdamaian, cinta dan maaf di seluruh penjuru. 
Namun ketahuilah, semua itu sama sekali tidak akan pernah terwujud dengan sendirinya, tanpa adanya sebuah kesungguhan dalam pembinaan lahir dan batin.
Akhirnya semoga kita semua diperbaiki...Amiiin...


Iwan Sunarya_ Berita Aneh dari Dasar Lautan

Saat malam datang, dan smua jiwa telah takluk pada pelukan mimpi, aku bangun dan berjalan menuju hutan di lereng-lereng gunung di sekitar gubuku, sebab aku tau jika "Gunung dan hutan slalu terjaga, ia tidak pernah tidur dan dalam keterjagaannya itu ia jadi pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang terbangun"
disini aku melihat pohon_pohon yang tidak henti bertasbih, akupun mendengar suara puji pujian kepada Tuhan dan bersemedi di dalam kekuatan mistis yang bersemayam di dalam riuhnya pepohonan. Lalu aku dengar pohon_pohon itu saling berbisik
"alangkah bahagianya kita yang tidak pernah mengantuk dan alangkah meruginya manusia, sebab mreka selalu kalah dan takluk pada kantuk". lalu yang lainnya lagi menyahut
"ya, itulah manusia yang diberikan segalanya tapi mereka sia-siakn, hanya jiwa yang terjagalah yang akan diberkahi". setelah itu mereka terdiam bisu. Lalu ku dengar dari kejauhan seekor burung hantu berteriak
"manusia tanpa cinta tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan, sebab manusia, cinta dan kebahagiaan adalah tiga dalam satu yang tidak mungkin dpat dipisahkan." Lantas dari sebuah bukit kudengar seekor ular berteriak suaranya mendesis bising sekali.
"manusia tanpa kebebasan tidak mungkin akalnya bisa berjalan, ia akan tersesat, sebab manusia, kebebasan dan akal pikiran adalah tiga dalam satu  yang tidak bisaa di ubah"sesaat keheningan melurupi segalanya, lalu kudengar pepohonan, binatang dan bebatuan serempak berteriak.
"itulah para PENGIKUT CINTa, buah dari parlawanan dan akibat dari kebebasan, tiga wujud Tuhan dan Tuhan merupakan ungkapan dari semesta yang cerdas". lalu diam mencekam, sekdar gemerisik sayap_sayap malam yang tidak tampak. Sementara itu berlalu, Akupun duduk larut dalam pemikiran yang dalam tentang misteri hutan yang baru saja aku saksikan.
Dalam batinku terus bergejolak, aku berteriak dalam diam "Oh Tuhan Pantaskah aku ini jadi Hambaamu, Sentuh dan genggam aku ya Illahi...?? jika pantas, Pungut aku dan bawalah duduk disampingmu.!!"

Oleh : Iwan sunarya (Pegiat Tasawuf Moderen)

Iwan Sunarya_ Celoteh Jiwa, sebagai pesan pilu bagi seluruh kader BPAN AI,


(Ini menurut sy, tentu saja rekan rekan boleh berbeda pendapat)
Semua org punya sudut pandang yg berbeda2, dan tdk ada yg salah dlm sudut pandang, org boleh menjelaskan satu hal berdasarkan apa yg dia pahami, itu halal, bahkan boleh menyakiti seseorang atas dasar apa yg dia yakini, hanya sudut pandang itu sifatnya duniawi, tdk akan memberi manfaat hakikat, hanya memberi manfaat syariat, selain itu sudut pandang itu selalu tercemar oleh kondisi/suhu hati, tdk stabil dan kadang sering menjerumuskan. 
Untuk itulah kita perlu menyekolahkan diri kita, baik sekolah formil, ataupun sekolah alam dan sekolah2 lain yg bs membuat kita paham, paham akan sudut pandang itu sendiri, dan untuk itu pula kita diperlukan berjamaah, berkumpul dan bersatu, agar kita bs saling menjaga dan memberi imformasi terkait kebijaksanaan, sebab puncaknya ILMU pengetahuan adalah HIKMAH (kebijaksanaan), untuk itu pula, setiap lembaga mewajibkan anggotanya untuk slalu berkumpul, pembekalan, pembenahan dan pencerdasan akal pikiran, sehingga terbukalah pikiran kita dan terbebaslah kita dri kata "Aku, Menurutku" yg ada "kita"

Maka, tugas lembaga manapun adlah, mencerdaskan Intelektual, mencerdaskan emosional dan mencerdaskan spiritual. Tiga hal ini merupakan tanggungjawab kita BPAN AI, dan pengejawantahan dri tugas ini adlah bagaimana kita ciptakan demokrasi dalam lembaga sehingga kita bisa menerima perbedaan dengan bijak, tidak harus selalu benar, yang harus adalah bertanggungjawab dari perbuatannya, kalau kita slalu sama, lalu darimana kita bisa belajar.? Maka menurut saya, biarlaah anggota LAI ini mengekpresikan dirinya sendiri, jagan di tekan, jangan dihakimi apalagi di eksekusi. Jika ada sesuatu yang salah, justru itulah ladang ibadah kita, bukankah kita ini ada untuk membenarkan yg salah.? Meraih mereka dengan tulus, mempersilahkan mereka dengan cinta, bukan malah mengusirnya... Jika harus sangat ketat, saran saya buatlah grouf khusus, misalnya "pasukan khusus", "tim Inti" dll... Klu di sini kita kumpul semuanya dari berbagai daerah, yang sudah pasti kita ada beda,,, hemat saya justru bagu klu kita bs memberi ruang kebebasan kepada kader2 lembaga, kita tampung dan kita apresiasi.
Saatnya kita ciptakan keharmonisan, kehangatan dan kerukunan berorganisasi, jangan kaku seprti ini.!!!

selamat bertugas, selamat beraktifitas.. 
Ingat..!!! "Tim terbaik bukan yang paling pintar, tapi dia yang setia pada tugas yang telah ia sepakati sama sama"


Iwan Sunarya_ Terimakasihku untuk Bung Jokowi


Mengapa saya suka jokowi.????
Belakangan ini saya kehilangan selera untuk berfikir, entahlah...! Pernah saya membuat syaembara siapa yang bisa menemukan Selera saya kembali saya akan panggil dia presiden, lumayan lama saya menyebar syaembara itu namun hasilnya tidak sesuai harapan.
Di ujung harap yang semakin pudar, ada penomena yang mampu menggoda hasrat saya lagi, "cebong dan kampret" dua kalimat ini yang mampu mengalihkan kesepianku.
Saya urai sampai akarnya kenapa dua kalimat ini muncul, apa penyebabnya dan siapa pemicunya.? Anehnya pikiran saya mengarah pada sosok orang nomor satu di negeri ini, bung jokowi, iya kebetulan beliau masih presiden negeri ini. Maka berakhirlah syaembara saya dan pemenangnya adalah bung Jokowidodo.
Saya juga ingin mengkait2kan kepada beliau apa yang sedang terjadi saat ini, iya karena beliaulah saat ini saya memiliki  hasrat kembali untuk menuangkan buah pikiran saya disini. Kita lihat lebih luas lagi. Saya percaya karena bung jokowi kita semua jadi terbebas dari pengangguran, kita semua sudah memiliki pekerjaan, bahkan kita sangat sibuk, sibuk dengan bermacam2 pekerjaan. Kita Sibuk berwawankata macam ini, kadang kita sibuk saling bulily satu sama lain, saling rendahkan, ada yang serius bertengkar, ada pula yang pura-pura bertengkar.
Lihat, bagaimana emek-emak kini sibuk, bkn hanya ngurus suami masing masing, mereka kini sibuk ngurus suami orang lain, selain sibuk arisan emak emak sekarang lebih dinamis lagi dgn berbagai hal yang sebelumnya tidak mereka lakukan.
Intinya masyarakat indonesia jadi sibuk dan dibuat cerdas oleh rejim ini, coba sekali lagi lihat kaum emak emak sekarang bagai jamur, ada istilah emak emak milenial, karena siapa lagi kalau bukan karena bung jokowi. itulah sebabnya mengapa saya suka banget bung Jokowi.
Saat ini saja kita bertemu kata, meski hanya di tulisan ini, dan kita bisa saling bicara, ini bagus dan menurut saya karena bung jokowilah kita berwawankata di coretan ini, memang urusan memilih kembali lagi pada hati nurani (bkn Hanura) masing-masing.
saya Bukan Pendukung jokowi dan diantara sodara-sodara ada yang projo, hal ini sudah jelas. Saya jadi inget pepatah Sang Rembulan "Nak. jika kamu tidak lagi kuasa berjuang dengan kekuatan pisikmu. Maka berjuanglah dengan hatimu", Ya nurani saya bicara, jika saya bukan untuk jokowi, dan Soal prabowo, saya tidak mesti belajar banyak (meskipun kenyataannya saya pelajari semuanya) tapi itu bukan prioritas, yang terpenting saya sudah dapat alasan untuk tidak memilih bung jokowi, karena Tugas bung jokowi sudah selsai. tugas apa.? Yakni tugas Memberi pendidikan Alam kepada kami segenaf warga negara indonesia... Andai saja ada calon lain slain kedua calon sekarang, bisa jadi saya ambil calon itu, artinya, saya tidak panatik prabowo seolah-olah prabowo sangat benar, tidak sodaraku.. Hanya itu tadi saja, karena  saya sudah dapat alasan untuk tidak memilih bung jokowi.
Ok sodaraku, bang Paul Nababan dan semua pembaca yang budiman selamat pagi sj, salam hangat dari saya di garut, tetap semangat, tetap gembira dan jadilah panglima yang hebat bagi diri kita sendiri, 
Terimakasih, Afwaan ziddan.!!!

By. Iwan sunarya (pegiat Tasawuf Moderen)

Iwan Sunarya_Persetan Dengan Demokrasi.!!!


"Saya menyesal pernah menjadi Marketing DEMOKRASI".
Sebab kini saya tau Demokrasi yang slalu saya teriakan itu hanyalah prodak kafir yang tidak bisa memberi kepastian hidup lagi pada kita semua, Sebab demokrasi yang selalu saya banggakan kini sudah  memperlihatkan wujud buruknya.
Lihat, sekarang kita berantakan, kita akan punah, sebentar lagi kita saling makan, bahkan saling bunuh satu sama lain. semesta terasa gelap gulita,  kita tidak tau arah mana utara mana barat, mana selatan mana timur, kita tdk bisa mengenal wajah saudara kita sendiri dengan jelas, dengan tidak sengaja kita saling jegal satu sama lain, bahkan dengan sengaja kita saling intai dengan sesama, saling bully, akhirnya kita semua kehilangan orientasi kehidupan. Hendak kemana kita semua pergi.??? Selain itu hilanglah rasa syahdu dalam hidup, dimana anak tidak lagi merasakan indahnya rasa rindu kepada ayahnya, pelajar tidak lagi merasakan bagaimana nikmatnya hormat kepada guru, akhirnya kita semua kehilangan wibawa, kehilangan rasa hormat, saling merendahkan dan saling membanggakan diri, inilah ajaran demokrasi yang kita banggakan. Lalu masihkah akan kita perjuangkan DEMOKRASI itu.???
kita ingin hidup ini bermanfaat bagi sesama, namun yang terjadi malah sebaliknya, kita dihianati lalu Setelah kita di hianati kita siap siaga untuk ganti menghianati, setelah kita di bully kita siap siaga untuk ganti membully, setelah kita dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan. Lalu apa bedanya kita dgn mereka yang kita kutuk habis habisan dimulut itu..??? sama saja. dan inilah ajaran demokrasi,
harusnya kita semua menjadi cerdas dengan pengetahuan namun Kita tdk memperluas cakrawala jiwa kita dengan ilmu, taburan senyum, cinta dan ketulusan. Melainkan kita malah mempersempitnya dengan jurang jurang kenistaan dan duri duri kepalsuan...
Jika demikian dampak dari DEMOKRASI yang kita anut, jika kengerian ini adalah prodak DEMOKRASI yang kita banggakan, Jika petaka dan bencana ini merupakan buah karya DEMOKRASI yang kita jaga sekuat tenaga. Maka mari sama sama berteriak "Persetan dengan Demokrasi"

Aaaahhhhhhhhh, akan tetapi jangan demikian, taatlah pada pemimpinmu, baktilah pada negaramu dan berdirilah demi titah bangsamu, jika negeri ini tidak bisa memuaskan dahaga batinmu, maka yakinlah jika Tuhan akan puaskan dahaga kita kelak di suatu hari.. 
oleh : Iwan Sunarya (Pecinta Kegelisahan)