Tampilkan postingan dengan label Kehendak Sang Rembulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehendak Sang Rembulan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2019

Jk Badai ini dpt ku genggam, bs dipastikan aku akan hadir dlm jiwamu yg ke dua kalinya, dan bersama2 meminum anggur kehidupan seperti yg telah kita lakukan


Kukira sekrang saat yang tepat agar engkau tau kemana arah langkahku... Tidak cintaku, langkah ini tidak menuntunku ke lembah yang dalam dimana kebusukan merajarela. Aku hanya larut dalam pemikiran tentang pantai yang tenang tempatnya jiwa2 yang agung berlabuh. Aku pergi kesana cintaku, aku ingin mencari pelabuhan itu, agar aku bisa bersandar di atas dadanya yang lapang, agar aku bisa bermain dengan airnya yang tenang dan jernih, agar jiwaku bisa beristirahat dibawah rindangnya dedaunan itu. Tidak cintaku, aku tidak mencari pelabuhan lain, sebab jiwa yang suci tidak akan meninggalkan sebuah sandaran demi sandaran baru sebelum merasakan hangatnya belaian.
Aku hanya rindukan angin sepoi membelai jiwaku yang sedang gerah, aku hanya mimpikan heningnya hutan yang sexy seperti Kamojang Ecopark yang dapat memuaskan nafasku yang sedang memuncak ini, ku rindukan itu darimu cintaku, sebab engkau pernah mengairi ladang hatiku, sebab engkau pernah berkata "akulah embun pagi yang akan menyegarkan sluruh isi hatimu, akulah semilir angin yang dapat menenangkanmu, akulah gelap malam, telanjang yang dapat memuaskanmu, akulah obat dari segala obat yang dapat melipur lara dan kegelisahanmu" itu katamu cintaku.
tapi sekarang angin telah membawa smua itu ke tanah kehampaan, dimana iblis dan setan merajarela. Tapi sekarang virus kebencian telah meracuni smua kemesraan itu..
Cintaku, jika sang malam merestui, jika gelombang ini dapat ku genggam dan jika badai ini dapat ku tenangkan. Maka dapat ku pastikan aku akan hadir di dalam jiwamu untuk berlabuh sekali lagi dan bersama sama meminum air kehidupan yang slama ini telah kita minum bersama. (beberapa bln yg lalu), sekarang, dia benar2 sedang bersamaku... Sang Rembulan, memang penakluk BADAI...

Iwan sunarya (Pejalan Kaki)

Jumat, 19 April 2019

Aku Hanya Ingin Sendirian Dalam Neraka


"Sungguh aku menyesal telah merepotkanmu dan telah membagi duka brsamamu. sebab engkau merupakan pelipur laraku yang menyelimuti hatiku lalu menyempurnakanku. dan akupun adalah malaikat penjagamu dan penawar letih di jiwamu". itu katamu Cintaku. Padahal aku ini GILA, tapi aku merahasiahkan kegilaanku padamu, sebab aku hanya ingin GILA sendiri.
Sahabatku, aku tidak seprti yang engkau lihat, sebab aku ada dalam diriku, disanalah aku tinggal di tempat yang sunyi dan tidak tergapai. 
saat kau bilang "bukankah malam ini indah sekali.?" "ya, malam ini memang indah" jawabku. karena aku tidak ingin kau tau bahwa pikiranku sedang bermain bersama gelombang di lautan yang luas, kau tidak akan mengerti misteri pikiranku dan aku hanya ingin sendirian di lautan yang luas.
jika bagimu tertawa adalah bahagia, maka bagiku itu adalah kedukaan, jika hari merupakan siang bagimu. maka bagiku itu malam. saat kau berkata "ingin ini dan itu", ku katakan padamu bahwa aku juga suka. padahal aku menertawakan keinginanmu itu, tapi aku tidak ingin kau melihat tawaku, sebab aku hanya ingin tertawa sendiri.
Cintaku.
sekarang katakan padaku, dalam hal apakah kita berbeda pendapat.? kita sama sama dalam hal apapun, maumu jadi mauku, laraku jadi laramu, tapi tahukah engkau bahwa hal itu merupakan tekanan berat buatku. tapi sekali lagi aku merahasiahkannya darimu, sebab aku hanya ingin tersiksa sendiri.
Saat malam tiba, kita pergi keperaduan, terlelap sambil telanjang dan berpelukan, kau melayang menuju syurga firdausmu dalam tidur. pada saat itu, disaat engkau terlelap diam-diam aku turun menuju nerakaku yangg sudah lama kurahasiahkan darimu, aku tidak ingin engkau tau soal nerakaku, sebab AKU HANYA INGIN SENDIRIAN Dalam NERAKA. Aku tidak ingin melihatmu bersedih, karena itulah aku merahasiahkan bara api ini.
kekasihku..!
Engkau bukanlah sahabat sejatiku, meskipun kita berdampingan, sebab tempatku bukanlah tempat yang indah buatmu, kita bergandengan tangan, berjalan sama2, seia sekata, tapi jalanku bukanlah jalan yang baik buatmu, sebab kau adalah musuh yang nyata buatku. ingin rasanya kau tau soal ini. tapi aku takut mengacaukan pikiranmu.
maka maafkan aku wahai istriku, belahan jiwaku, sebab entah sampai kapan aku harus merahasiahkan semua ini darimu.
Bara ini terlalu panas untuk kau genggam, jalan ini terlalu terjal untuk kau lalui. Maka biarlah aku sendiri..

Oleh : Iwan sunarya

I B L I S_ Diantara Ribuan Sahabatku, Hanya Dialah yang Paling Aku Rindukan


Kali ini Aku tidak memintanya untuk menahan diri,
Sebab akupun telah jemu melayaninya, Tubuhnya yang bau, lidahnya yang penuh bualan dan suaranya yang nyaring, itulah IBLIS KEPARAT.

Sejujurnya ingin sekali aku membunuhnya, tapi aku tidak bisa dan aku harus terbiasa dengan ini bahkan lebih dari itu, telah ku sayangi dia dan telah ku jaga perasaanya dengan Penuh Kesabaran, sebab aku tidak sanggup melihatnya kalah. Namun aku salah dan aku sangat menyesal sebab KESABARANKU itu telah membuatnya jemu dan dia memutuskan untuk pergi.,
Meski aku tidak melerainya, namun jujur harus aku katakan bahwa aku mulai takut kehilanganya, "jika itu merupakan keputusanmu, maka harus kurelakan kepergianmu, jika saja sehari lagi kita bisa bersama, pasti kita bisa jadi teman sejati" kataku sambil memegang tangannya yang gemetar, "baiklah kawanku, selamat jalan saja, jika suatu saat kau kedinginan. Maka jangan sungkan untuk mampir di gubuk ini lagi" lanjutku,, sesaat ia tunduk, kulihat matanya lembab namun dia berusaha menyembunyikannya, dan dia berkata "selamt tinggal sahabatku, aku kira ini akhir yang baik bagi kita"., dia pun pergi melewati jalan setapak, menyusuri lorong-lorong kota santri.
Sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi, ya barangkali IBLIS itu telah binasa, smoga saja belum, sebab masih aku inginkan pertemuan ke dua dengannya.. IBLIS keparat, iblis laknat.
SEKARANG, setelah sekian lama aku tidak melihatnya, jujur aku sangat merindukannya, merindukan bualannya, merindukan omong kosongnya, aku rindu dengan bau tubuhnya, aku rindu segalanya, aku sepi tanpanya.
Beberapa bulan lalu aku dapat kabar jika dia ada di suatu rumah di lereng gunung cikuray, aku kejar kesana namun penghuni rumah mengatakan dia sudah lama pergi.
Ohhhh IBLIS, kawanku, sahabatku. Dimanakah engkau.? Kemarilah, kunjungi aku di gubuk yang biasa kita bertemu, aku janji kali ini aku akan jadi sahabat yang buruk buatmu, agarengkau betah dan mau berlama lama di sisiku


Oleh : Iwan Sunarya (Pegiat Tarekat Moderen)